Ready or not, the day will come
Apr
04
By: kift neea | Discussion (0)

Ia telah pergi, bukan kepergian ke suatu tempat yang jauh dan akan kembali besok, atau bukan pula pergi liburan dengan kepulangan suatu hari kelak. Ini adalah kepergian yang tidak pernah kembali, selamanya.
Pengertian tersebut menghentak manakala mendengar berita kematian orang-orang terdekat dan para sahabat. Kata “meninggal” bukanlah sesuatu yang asing, setiap orang pernah dan mungkin berulang kali mendengarnya. Kata tersebut terucap kala salah satu anggota keluarga, sahabat atau tokoh terkenal pergi untuk selamanya. Spontan, kejadian itu akan diikuti oleh ucapan “Innalillahi wainna ilaihi rajiun”.
Kemarin A sehat bugar, tiba-tiba esoknya meninggal. Terakhir bertemu, B baru saja merayakan kenaikan jabatan dan rumah baru, tiga hari kemudian sebuah sms mengirimkan berita kematiannya. Seminggu lalu C tampil di teve dengan gaya arogan menuding orang lain lemah dan papa, hari ini berita di koran ia tewas kecelakaan pesawat. Bahkan tadi malam D baru saja test drive mobil Jaguar seri terbaru, besok pagi ternyata diusung keranda menuju ke pemakaman. Sementara Z sebulan lalu belanja ke Paris memborong Louis Vitton, Yvest, Armani, Dior, Chanel, Prada dan segala merk ternama, sebelum sempat dipakai, telah terbujur kaku bersama selembar kain kafan.
Rumah mewah, mobil, jabatan, keluarga dan seluruh kekayaan, semua tertinggal begitu saja. Hanya selembar kafan yang dibawa serta. Lalu ke mana semua kekayaan, kekuatan, orang terkasih tertinggal? Akhirnya semua jerih hidup di dunia tertinggal. Hanya kenangan yang tersisa bagi mereka, sementara yang “pergi dan takkan kembali” membawa amal semasa hidup.
Saya, yang masih diberi kesempatan hidup ini, baru sebatas merasa kehilangan, belum bisa berbagi cerita untuk rasa meninggalkan. Jadi hari ini marilah kita mengenang mereka yang telah lebih dahulu menempuh perjalanan menuju-Nya. Sebab bukankah kepada-Nya kita akan kembali?
Rasa kehilangan yang pertama membekas saat kehilangan sahabat masa kuliah. Meski sebelumnya pernah mengalami kehilangan kake, nenek, maupun paman, saya merasa kehilangan yang sangat saat sahabat tersebut meninggal di usia muda. Mungkin karena kakek-nenek meninggal saat usia saya masih kecil, jadi belum begitu mengerti makna kehilangan. Sementara sahabat saya, sekaligus teman kerja – freelance di sela jadwal kuliah – adalah teman wira-wiri yang energik. Selain cantik, kaya, ramah, ia juga memiliki banyak sifat baik lainnya.
Namun kebersamaan kami perlahan direnggut sang takdir, ia mulai jarang masuk kantor karena harus menjalani kemoterapi akibat kanker payudara. Rumah sakit menjadi akrab baginya. Setelah beberapa kali menjalani terapi, saya menyaksikan rambutnya yang mulai rontok, kondisi fisik yang melemah dan harapan hidup yang mulai memudar. Maka pada suatu pagi saya dikagetkan oleh berita meninggalnya. Padahal beberapa minggu sebelumnya ia terlihat lebih segar dan membaik. Rasanya maut datangnya mengendap-ngendap, seperti seorang pencuri yang menunggu tuan rumah lengah.
Saya tergugu saat tunangannya menyampaikan berita duka tersebut. Tersentak oleh sebuah kesadaran kini kami takkan bisa tertawa bersama, berebut santapan siang, jalan-jalan atau sekedar menatap wajah lembutnya. Kini ia telah pergi, sendiri dan tidak akan kembali!
Kehilangan kedua adalah saat ibu tiada. Saat itu perasaan kehilangan begitu kental saya hirup di sisa hari yang terus berlari. Tergiang ucapan, “Nak, kamu punya uang buat makan? Uangmu cukup?” yang selalu diucapkan ibu dari telepon yang menyambungkan antara Pulau Sumatera dan Jawa. Bahkan setelah saya menikah pun kalimat tersebut masih kerap terucap.
Ketika suatu malam, telepon berdering dan mengabarkan ibu meninggal, dunia terasa berhenti sesaat. Ada kehampaan dan lorong sunyi yang tiba-tiba terbentang. Masih tak percaya rasanya saat menatap barang-barang peninggalan yang sebelumnya masih hangat oleh aroma tubuh ibu, tiba-tiba terasa dingin membeku. Saat menatap kamar, kursi yang setiap senja ia duduki, foto-foto dan berbagai benda yang mampu mengingatkan sosoknya, seakan tak rela membiarkannya kedinginan diguyur hujan dan tertinggal sendiri di tanah pemakaman.
Berhari-hari setelah kematian ibu, saya membayangkan betapa sepi dan sendirinya di balik pusara. Berhari-hari setelah pemakaman, rasanya sulit memejamkan mata tanpa membayangkan tanah dingin tempat ibu kini terbaring. Tiba-tiba segala terputus, hanya tersisa kenangan.
Lantas Allah membalas kerinduan saya terhadap ibu, lewat ibu mertua. Kebaikan dan kasih sayangnya tak terukur, saya merasa seperti anaknya sendiri. Namun kembali maut merampas kebahagiaan saat beliau pun meninggal di usia yang masih muda. Kali ini saya lebih ikhlas, sebab tidak tega melihatnya lama dalam kondisi koma. Setelah 40 hari berjuang melawan penyakit lupus yang baru diketahui di saat-saat terakhir.
Sepertinya maut memang tidak bisa diajak kompromi. Lalu bapak mertua, nenek, saudara jauh, famili, teman masa kecil, rekan kerja, mantan bos dan kenalan. Semua membuat daftar yang semakin panjang. Ada yang berjejak, namun ada juga yang hanya sepotong kenangan bahwa ia pernah ada.
Kemudian seiring waktu, saya saksikan airmata kesedihan saat seorang teman kehilangan ayah, adik maupun anak-anak mereka. Meski kemudian kematian saya pahami sebagai sesuatu yang alami, seperti halnya rotasi bumi yang mengantarkan perubahan siang dan malam.
Setiap kali hadir melayat, entah yang saya kenal dekat atau tidak, saya coba mengingat-ingat kenangan apa yang terekam dari almarhum. Kalau sudah begitu saya akan tersadar satu hal: “Bila t’lah tiba giliran saya, maka apa yang akan dikenang oleh orang lain?” Sudah adalah hal baik yang pantas dikenang? Atau adakah karya saya yang tertinggal, sebagai penanda bahwa saya pernah ada?
Saya bayangkan, pada hari itu rumah saya penuh oleh para pelayat (semoga memang banyak yang datang dan mendoakan jenazah saya). Sanak-keluarga diliputi duka atas kematian saya, sahabat dan kenalan datang silih berganti. Semua membacakan doa dan ikut menyalatkan. Lantas saat jenazah saya akan dibawa ke pemakaman, pada saat pidato pelepasan dari keluarga atau kenalan, kira-kira apa yang akan mereka ucapkan tentang saya?
Bergaung seribu tanya. Apakah saya istri yang baik bagi suami? Ibu yang pengasih? Anak atau adik yang berbakti? Sahabat yang setia dan penyayang? Pribadi yang menyenangkan atau menyebalkan? Si pemarah atau penyabar? Seberapa banyak orang yang sakit hati oleh ulah saya? Amal apa yang telah saya perbuat? Prestasi apa yang patut dikenang? Dan banyak tanya lainnya yang jujur saja membuat saya ngeri. Ternyata saya belum siap untuk mati!
Sepenuh syukur terucap bila selesai melayat, ternyata saya masih punya kesempatan untuk membuat catatan kenangan akan diri saya menjadi lebih baik. Saya sadari bahwa diri ini adalah sebuah diary, yang bila sang maut menjemput menyisakan sebuah kisah tentang keberadaan sosok saya.
Dalam perjalanan menulis diary kematian tersebut, hingga hari ini setiap kali mendengar berita duka, masih saja membuat saya tersentak. Sejenak larut dalam kekagetan sesaat. “Ah, pencuri usia itu kembali datang, menunggu saat lengah untuk mencabut mereka dari tengah-tengah orang yang mengasihi.” Sudah siapkah saya bila tiba-tiba ia datang?

*fiksi dari beberapa sumber*