Dari pergaulan melalui media internet, bukan hal yang mengherankan jika seandainya kita “bertemu” dengan seseorang yang ternyata enak diajak ngobrol, memiliki perspektif dan prinsip-prinsip hidup yang tidak jauh berbeda dengan kita, dan ternyata lama-lama kita juga mulai menyukainya. Dari percakapan di dunia maya, “pertemuan” ini bisa berlanjut dengan pertemuan di dunia nyata. Ada beragam kisah “cinta online” yang mungkin pernah anda dengar atau mungkin malah pernah anda alami sendiri. Ada yang berlanjut ke pernikahan, ada yang hanya berjalan beberapa bulan saja, atau juga yang menyisakan trauma. Tidak jarang alasan yang terakhir ini membuat sebagian orang memandang negatif hubungan yang dimulai dari dunia maya.
Sebenarnya wajar juga pemikiran di atas, mengingat di dunia maya, seseorang dengan mudahnya bisa membuat identitas palsu, atau menunjukkan karakter palsu (bukan dirinya yang sebenarnya). Sedikit berbeda dengan dunia nyata, dimana kita juga bisa mengenal orang tersebut dari keluarganya, teman-temannya, atau lingkungan pergaulannya. Paling tidak kemungkinan untuk tertipu bisa lebih diminimalisir. Namun, jika kita terlalu terfokus pada sisi “negatif” dari dunia maya, maka kita bisa rugi karena di samping itu ada banyak manfaat yang bisa kita dapatkan. Kita bisa saling mengenal dengan orang-orang dari belahan dunia manapun, kita bisa saling berbagi cerita, saling memberi dukungan, dan saling memberi dorongan positif.
Ada banyak kejutan tak terduga yang bisa kita alami dari berkomunitas di dunia maya, dan juga tidak menutup kemungkinan untuk bertemu dengan pasangan hidup di sana.
Berinteraksi lewat internet seringkali bisa memangkas waktu perkenalan. Jika dibandingkan dengan perkenalan face to face, perkenalan lewat internet dapat membuat kita dan orang lain lebih cepat untuk menjadi dekat dan berbagi hal-hal yang lebih (misalnya tentang kejadian sehari-hari, perasaan, emosi, dan sebagainya).
Dalam hal ini kita perlu membatasi diri dan mengontrol kecepatan. Kita perlu ingat bahwa
sebenarnya kita masih belum sungguh-sungguh mengenal orang ini. Selain itu, masih terlalu awal untuk menilai apakah si dia adalah calon pasangan yang potensial jika kita masih belum bertemu langsung dengannya. Karena ada sebagian orang yang image-nya berbeda antara ketika dia berinteraksi lewat media internet dengan lewat pertemuan langsung.
Akan lebih baik jika anda punya teman yang juga mengenal orang ini, sehingga paling tidak ada sumber lain yang bisa memberikan informasi yang lebih obyektif tentang identitas dan karakter orang ini yang sebenarnya. Namun jika tidak, anda tetap bisa saling mengenal satu sama lain, dengan tetap santai namun berhati-hati, sambil juga melibatkan Tuhan agar Dia tetap menjagai dan memimpin anda. Biarkan kedekatan anda dengan dia tumbuh dengan alami dan tidak terlalu cepat, tingkatkan komunikasi lewat saling berdiskusi dan membicarakan tentang berbagai topik agar anda bisa mengetahui bagaimana pola pikirnya, sudut pandangnya, imannya, tingkat kedewasaannya, dan juga karakternya.
Memang tidak semua hal ini bisa anda kenali hanya dengan berinteraksi lewat dunia maya, karena itu jika memungkinkan, akan lebih baik jika anda dan dia melanjutkan dengan lebih sering bertemu dan berinteraksi di dunia nyata. Karena dari situ anda bisa melihat apakah perkataannya sama dengan tindakannya (berintegritas) . Hei, kita sedang membicarakan tentang kemungkinan calon pasangan hidup bukan?
Selain berdoa dan carilah orang yang lebih dewasa atau teman yang memiliki pemahaman yang benar tentang relationship, bisa orang tua anda, pembimbing rohani, atau teman yang dewasa. Selama anda mencoba menjajaki dan menilai hubungan anda dengan seseorang yang anda kenal melalui internet, diskusikan dan bicarakanlah perkembangan hubungan anda dengan mereka. Biasanya, orang-orang di luar anda dapat lebih menilai dengan obyektif tentang kualitas hubungan anda dan tentang orang yang sedang anda jajaki. Dengan demikian, paling tidak kemungkinan untuk membuat kesalahan yang fatal dapat lebih diperkecil lagi.
Memang tidak ada jaminan 100% bahwa hubungan anda akan berhasil dan orang itu memang adalah pasangan hidup anda, namun yakinlah bahwa di atas segalanya, Tuhan-lah yang memegang kendali atas segala bidang kehidupan anda, termasuk dalam hal relationship.
Kisah dari sebuah Universitas di Jakarta tentang seorang gadis muda yang baru meninggal bulan lalu. Namanya Samara. Dia meninggal karena tertabrak truk. Samara punya seorang pacar namanya Ari. Kedua nya saling menyayangi. Mereka selalu berteleponan. Kamu tidak akan pernah melihat Samara tanpa handphone nya. Sampai2 dia mengganti kartu Telkomsel nya ke INDOSAT, agar mereka berdua berada di network yang sama dan mengirit pulsa serta signal yang kuat. Samara menghabiskan hampir setengah hari untuk mengobrol dengan Ari.
Keluarga Samara pun tahu hubungan mereka. Ari sangat dekat dengan keluarga Samara bayangkan hubungan mereka). Sebelum dia meninggal dia selalu berkata pada teman2nya “Kalo gua meninggal tolong kuburkan gua sama
handphone gua” dia juga mengatakan hal yang sama kepada orangtuanya.
Setelah Samara meninggal tidak ada yang dapat mengangkat peti matinya.Saya juga berada disana. Banyak orang termasuk saya yang mencoba tapi tetap tidak bisa. Akhirnya mereka memanggil “orang pintar”. Dia memegang sebatang kayu dan mulai berbicara sendiri perlahan. Setelah beberapa menit orang pintar itu berkata “gadis ini kehilangan sesuatu disini”, lalu teman2 Samara berkata kepada orang pintar itu tentang keinginannya untuk dikubur dengan handphonenya. Kemudian mereka membuka kembali peti matinya dan menaruh handphone serta Simcard-nya. Setelah itu mereka mencoba untuk mengangkat kembali peti matinya. Peti mati itu dapat diangkat dan dipindahkan ke mobil jenazah dengan mudah. Kami semua yang melihat ini sangat kaget. Keluarga Samara tidak memberitahukan tentang kematian Samara kepada Ari. Setelah 2 minggu kematian Samara, Ari menelepon mama Samara dan berkata “Saya akan pulang hari ini, tolong buatkan masakan yang enak untukku. Dan jangan katakan pada Samara bahwa aku akan datang, aku ingin membuat kejutan untuknya”. Mama Samara menjawab “Datanglah dahulu, tante ingin memberi tahu sesuatu.” Setelah Ari datang, mereka memberitahukan tentang kematian Samara. Ari mengira mereka sedang bercanda, dia hanya tertawa dan berkata “Jangan bercanda, bilang pada Samara untuk keluar, aku membawa sesuatu untuk nya.” Akhirnya mereka membawa Ari ke kuburan Samara. Lalu Ari berkata “Ini tidak mungkin. Kami berbicara kemarin. Dia masih tetap menelepon.” Ari sangat terkejut. Tiba-tiba handphone nya berbunyi, “Lihat ini dari Samara, lihat ini!!…”, Ari memperlihatkan handphonenya ke keluarga Samara, dan mereka menyuruh Ari untuk menjawab. Ari menjawab telepon itu dengan memakai speaker. Mereka semua mendengar pembicaraan itu dengan sangat jelas jernih, tidak ada gangguan apapun. Dan itu benar2 suara Samara dan sangat tidak mungkin ada orang lain yang memakainya karena Sim Cardnya sudah dikubur bersama Samara. Mereka semua sangat terkejut dan memanggil “orang pintar” untuk membantu mereka lagi.
“Orang pintar” itu membawa temannya untuk mencari jawaban atas keanehan ini. Orang pintar dan teman nya itu bekerja selama 5 jam. Dan mereka menemukan jawabannya…..
INDOSAT mempunyai signal yang TERBAIK. Kemanapun kamu pergi, jaringan nya selalu ada (he…he..he. ..he…he. .)
^_^
Huahahahahaha.
…
* Saat kau MENYUKAI seseorang, kau ingin memilikinya untuk keegoisanmu sendiri.
* Saat kau MENYAYANGI seseorang, kau ingin sekali membuatnya bahagia dan bukan untuk dirimu sendiri.
* Saat kau MENCINTAI seseorang, kau akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya walaupun kau harus mengorbankan jiwamu.* Saat kau menyukai seseorang dan berada disisinya maka kau akan bertanya,”Bolehkah aku menciummu?”
* Saat kau menyayangi seseorang dan berada disisinya maka kau akan bertanya,”Bolehkah aku memelukmu?”
* Saat kau mencintai seseorang dan berada disisinya maka kau akan menggenggam erat tangannya…
* SUKA adalah saat ia menangis, kau akan berkata “Sudahlah, jangan menangis.”
* SAYANG adalah saat ia menangis dan kau akan menangis bersamanya.
* CINTA adalah saat ia menangis dan kau akan membiarkannya menangis dipundakmu sambil berkata, “Mari kita selesaikan masalah ini bersama-sama. ”
* SUKA adalah saat kau melihatnya kau akan berkata,”Ia sangat cantik dan menawan.”
* SAYANG adalah saat kau melihatnya kau akan melihatnya dari hatimu dan bukan matamu.
* CINTA adalah saat kau melihatnya kau akan berkata,”Buatku dia adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan padaku..”
* Pada saat orang yang kau SUKA menyakitimu, maka kau akan marah dan tak mau lagi bicara padanya.
* Pada saat orang yang kau SAYANG menyakitimu, engkau akan menangis untuknya.
* Pada saat orang yang kau CINTAI menyakitimu, kau akan berkata,”Tak apa dia hanya tak tau apa yang dia lakukan..”
* Pada saat kau suka padanya, kau akan MEMAKSANYA untuk menyukaimu.
* Pada saat kau sayang padanya, kau akan MEMBIARKANNYA MEMILIH.
* Pada saat kau cinta padanya, kau akan selalu MENANTINYA dengan setia dan tulus…
* SUKA adalah kau akan menemaninya bila itu menguntungkan.
* SAYANG adalah kau akan menemaninya di saat dia membutuhkan.
* CINTA adalah kau akan menemaninya di saat bagaimana keadaanmu.
* SUKA adalah hal yang menuntut.
* SAYANG adalah hal memberi dan menerima.
* CINTA adalah hal yang memberi dengan rela.
Ia telah pergi, bukan kepergian ke suatu tempat yang jauh dan akan kembali besok, atau bukan pula pergi liburan dengan kepulangan suatu hari kelak. Ini adalah kepergian yang tidak pernah kembali, selamanya.
Pengertian tersebut menghentak manakala mendengar berita kematian orang-orang terdekat dan para sahabat. Kata “meninggal” bukanlah sesuatu yang asing, setiap orang pernah dan mungkin berulang kali mendengarnya. Kata tersebut terucap kala salah satu anggota keluarga, sahabat atau tokoh terkenal pergi untuk selamanya. Spontan, kejadian itu akan diikuti oleh ucapan “Innalillahi wainna ilaihi rajiun”.
Kemarin A sehat bugar, tiba-tiba esoknya meninggal. Terakhir bertemu, B baru saja merayakan kenaikan jabatan dan rumah baru, tiga hari kemudian sebuah sms mengirimkan berita kematiannya. Seminggu lalu C tampil di teve dengan gaya arogan menuding orang lain lemah dan papa, hari ini berita di koran ia tewas kecelakaan pesawat. Bahkan tadi malam D baru saja test drive mobil Jaguar seri terbaru, besok pagi ternyata diusung keranda menuju ke pemakaman. Sementara Z sebulan lalu belanja ke Paris memborong Louis Vitton, Yvest, Armani, Dior, Chanel, Prada dan segala merk ternama, sebelum sempat dipakai, telah terbujur kaku bersama selembar kain kafan.
Rumah mewah, mobil, jabatan, keluarga dan seluruh kekayaan, semua tertinggal begitu saja. Hanya selembar kafan yang dibawa serta. Lalu ke mana semua kekayaan, kekuatan, orang terkasih tertinggal? Akhirnya semua jerih hidup di dunia tertinggal. Hanya kenangan yang tersisa bagi mereka, sementara yang “pergi dan takkan kembali” membawa amal semasa hidup.
Saya, yang masih diberi kesempatan hidup ini, baru sebatas merasa kehilangan, belum bisa berbagi cerita untuk rasa meninggalkan. Jadi hari ini marilah kita mengenang mereka yang telah lebih dahulu menempuh perjalanan menuju-Nya. Sebab bukankah kepada-Nya kita akan kembali?
Rasa kehilangan yang pertama membekas saat kehilangan sahabat masa kuliah. Meski sebelumnya pernah mengalami kehilangan kake, nenek, maupun paman, saya merasa kehilangan yang sangat saat sahabat tersebut meninggal di usia muda. Mungkin karena kakek-nenek meninggal saat usia saya masih kecil, jadi belum begitu mengerti makna kehilangan. Sementara sahabat saya, sekaligus teman kerja – freelance di sela jadwal kuliah – adalah teman wira-wiri yang energik. Selain cantik, kaya, ramah, ia juga memiliki banyak sifat baik lainnya.
Namun kebersamaan kami perlahan direnggut sang takdir, ia mulai jarang masuk kantor karena harus menjalani kemoterapi akibat kanker payudara. Rumah sakit menjadi akrab baginya. Setelah beberapa kali menjalani terapi, saya menyaksikan rambutnya yang mulai rontok, kondisi fisik yang melemah dan harapan hidup yang mulai memudar. Maka pada suatu pagi saya dikagetkan oleh berita meninggalnya. Padahal beberapa minggu sebelumnya ia terlihat lebih segar dan membaik. Rasanya maut datangnya mengendap-ngendap, seperti seorang pencuri yang menunggu tuan rumah lengah.
Saya tergugu saat tunangannya menyampaikan berita duka tersebut. Tersentak oleh sebuah kesadaran kini kami takkan bisa tertawa bersama, berebut santapan siang, jalan-jalan atau sekedar menatap wajah lembutnya. Kini ia telah pergi, sendiri dan tidak akan kembali!
Kehilangan kedua adalah saat ibu tiada. Saat itu perasaan kehilangan begitu kental saya hirup di sisa hari yang terus berlari. Tergiang ucapan, “Nak, kamu punya uang buat makan? Uangmu cukup?” yang selalu diucapkan ibu dari telepon yang menyambungkan antara Pulau Sumatera dan Jawa. Bahkan setelah saya menikah pun kalimat tersebut masih kerap terucap.
Ketika suatu malam, telepon berdering dan mengabarkan ibu meninggal, dunia terasa berhenti sesaat. Ada kehampaan dan lorong sunyi yang tiba-tiba terbentang. Masih tak percaya rasanya saat menatap barang-barang peninggalan yang sebelumnya masih hangat oleh aroma tubuh ibu, tiba-tiba terasa dingin membeku. Saat menatap kamar, kursi yang setiap senja ia duduki, foto-foto dan berbagai benda yang mampu mengingatkan sosoknya, seakan tak rela membiarkannya kedinginan diguyur hujan dan tertinggal sendiri di tanah pemakaman.
Berhari-hari setelah kematian ibu, saya membayangkan betapa sepi dan sendirinya di balik pusara. Berhari-hari setelah pemakaman, rasanya sulit memejamkan mata tanpa membayangkan tanah dingin tempat ibu kini terbaring. Tiba-tiba segala terputus, hanya tersisa kenangan.
Lantas Allah membalas kerinduan saya terhadap ibu, lewat ibu mertua. Kebaikan dan kasih sayangnya tak terukur, saya merasa seperti anaknya sendiri. Namun kembali maut merampas kebahagiaan saat beliau pun meninggal di usia yang masih muda. Kali ini saya lebih ikhlas, sebab tidak tega melihatnya lama dalam kondisi koma. Setelah 40 hari berjuang melawan penyakit lupus yang baru diketahui di saat-saat terakhir.
Sepertinya maut memang tidak bisa diajak kompromi. Lalu bapak mertua, nenek, saudara jauh, famili, teman masa kecil, rekan kerja, mantan bos dan kenalan. Semua membuat daftar yang semakin panjang. Ada yang berjejak, namun ada juga yang hanya sepotong kenangan bahwa ia pernah ada.
Kemudian seiring waktu, saya saksikan airmata kesedihan saat seorang teman kehilangan ayah, adik maupun anak-anak mereka. Meski kemudian kematian saya pahami sebagai sesuatu yang alami, seperti halnya rotasi bumi yang mengantarkan perubahan siang dan malam.
Setiap kali hadir melayat, entah yang saya kenal dekat atau tidak, saya coba mengingat-ingat kenangan apa yang terekam dari almarhum. Kalau sudah begitu saya akan tersadar satu hal: “Bila t’lah tiba giliran saya, maka apa yang akan dikenang oleh orang lain?” Sudah adalah hal baik yang pantas dikenang? Atau adakah karya saya yang tertinggal, sebagai penanda bahwa saya pernah ada?
Saya bayangkan, pada hari itu rumah saya penuh oleh para pelayat (semoga memang banyak yang datang dan mendoakan jenazah saya). Sanak-keluarga diliputi duka atas kematian saya, sahabat dan kenalan datang silih berganti. Semua membacakan doa dan ikut menyalatkan. Lantas saat jenazah saya akan dibawa ke pemakaman, pada saat pidato pelepasan dari keluarga atau kenalan, kira-kira apa yang akan mereka ucapkan tentang saya?
Bergaung seribu tanya. Apakah saya istri yang baik bagi suami? Ibu yang pengasih? Anak atau adik yang berbakti? Sahabat yang setia dan penyayang? Pribadi yang menyenangkan atau menyebalkan? Si pemarah atau penyabar? Seberapa banyak orang yang sakit hati oleh ulah saya? Amal apa yang telah saya perbuat? Prestasi apa yang patut dikenang? Dan banyak tanya lainnya yang jujur saja membuat saya ngeri. Ternyata saya belum siap untuk mati!
Sepenuh syukur terucap bila selesai melayat, ternyata saya masih punya kesempatan untuk membuat catatan kenangan akan diri saya menjadi lebih baik. Saya sadari bahwa diri ini adalah sebuah diary, yang bila sang maut menjemput menyisakan sebuah kisah tentang keberadaan sosok saya.
Dalam perjalanan menulis diary kematian tersebut, hingga hari ini setiap kali mendengar berita duka, masih saja membuat saya tersentak. Sejenak larut dalam kekagetan sesaat. “Ah, pencuri usia itu kembali datang, menunggu saat lengah untuk mencabut mereka dari tengah-tengah orang yang mengasihi.” Sudah siapkah saya bila tiba-tiba ia datang?
*fiksi dari beberapa sumber*
Seseorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Dia duduk dan mengamati selama beberapa jam kupu-kupu dalam kepompong itu ketika dia berjuang memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian sang kupu-kupu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi…
» Continue Reading